Membuka Tabir Rahasia Ilmu Rasa

Yang manakah : Ujud dari yang disebut Rasa Jati itu?

Ujudnya : tidak bisa dilihat menggunakan mata biasa.

Jika bisa dilihat, jika menggunakan penglihatan gaib.

Jika untuk yang masih kasar, hanya bisa dirasakan saja.

Artinya : Selalu memperhatikan perbedaan antara Rasa dengan yang bernama Rahsa.

Sedangkan ciri tanda yang disebut dengan Rasa Jati, adalah :

Yang mengajak Ikhlas

Yang mengajak Menerima kenyataan dirinya

Yang mengajak Ingat kepada Tuhan

Yang mengajak ketenangan ketenteraman

Yang mengajak Hening

Yang mengajak untuk menyayangi sesamanya

Yang mengajak untuk mempercaya tentang hal batin

Yang mengajak untuk bersyukur kepada Tuhan

Yang mengajak tahan dalam kesendirian

Yang mengajak agar tidak tergesa-gesa

Yang mengajak senang, tidak susah

Yang mengajak agar tidak merasa kuatir

Yang mengajak untuk tidak mudah bosan

Yang mengajak untuk tidak sungkan

Yang percaya dengan kepercayaan yang tebal kepada hal batin.

Yang diringkas menjadi : YANG MENGAJAK KESEJUKAN DAN BERSERAH DIRI.

Akan tetapi, semua itu jangan dikira sudah murni (intisari rasa) karena itu baru ujungnya saja. Masih tercampur dengan kehalusan “Rahsa” (Mutmainah yang halus).

Walau pun demikian – sesiapa yang sudah bisa menggapai ujung dari “Rasa Sejati”, walau pun hanya ujungnya saja, dan masih tercampur rahsa – itu pun sudah ketempatan yang bernama ketenteraman, Kejernihan, keikhlasan, kesabaran dan sebagainya. Sudah menandakan bahwa sudah halus rahsanya.

Seseorang yang dalam pencariannya sudah bisa sedemikian itu, disebut sudah tajam, artinya : Mulai menemukan Rasa Sejatinya.

Seseorang yang sudah tajam Rasa Sejatinya, bisa tekun dalam ibadahnya dengan tidak merasa lelah atau bosan.

Apakah sebabnya? Sebabnya adalah : Yang berjalan itu bukan hanya angan-angan dan rahsa saja akan tetapi menggunakan pengaruh dari gerak Rasa Sejatinya. Sehingga keteika dalam ketukunannya itu : Rasa Sejati serta angan-angan dan Rahsa : Bergerak aktif semua.

Di situ Rasa Sejati memberi daya kepada keikhlasan, ketenteraman, ketenangan, tahan senddirian, tidak bosan, dan sebagainya. Angan-angan selalu mengingatkan kepada ibadahnya, sedangkan rahsanya, merasakan atas berjalannya angin.

Sedangkan bagi seseorang yang belum memiliki ketajaman, baru sampai kepada angan-angan dan rahsa saja. Sehingga cepat merasa bosan, lelah dan curiga.

Bagaimanakah caranya agar bisa tajam?

Tidak ada lagi selain “Tekun”, membiasakan mengerjakan ibadah serta menegakkan aturan kesusilaan.

Setelah memiliki ketajaman, jika dilakukan terus-menerus dalam pencariannya, semakin lama semakin halus atas rahsanya, sehingga bisa selaras (gathuk) dengan Rasa Sejatinya, di situ barulah mulai bisa menghilang batu di dalam Sukmanya, artinya barulah bisa mengitip kepada wilayah Yang Nyata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *