Iman Yaqin dan Nafi Isbat

Sesungguhnya suasana dan keadaan alam semesta dipengaruhi oleh amalan manusia, dan amalan manusia dipengaruhi oleh iman dan yaqin manusia.

Apabila iman telah lurus, maka amalan akan menjadi baik, sehingga ibadah, muamalah, muasyarah dan akhlak akan menjadi baik pula.

Apabila amalan telah baik, maka suasana dan keadaan alam semesta akan menjadi baik pula, sehingga iklim, cuaca, udara, daratan dan lautan akan berkhidmat atau melayani kepada manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…

Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…. “ (QS. Al A’raf : 96)

Bagaimana iman bisa lurus? Iman bisa lurus jika hatinya lurus. Bagaimana hatinya bisa lurus? Hati bisa lurus jika lisannya lurus.

Bagaimana lisannya bisa lurus? Lisannya bisa lurus jika sering digunakan untuk membicarakan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Yakni membicarakan bahwasanya :

Allah khaliq : Allah Maha Menciptakan

Allah malik  : Allah Maha Menguasai/Memelihara/Merajai

Allah raziq   : Allah Maha Pemberi Rezeki

Apabila 3 perkara tersebut sering dibicarakan, maka akan menimbulkan sifat QANA’AH.

Dan juga membicarakan bahwasanya :

Allah sami’   : Allah Maha Mendengar

Allah bashir : Allah Maha Melihat

Allah ‘alim   : Allah Maha Mengetahui

Apabila 3 perkara tersebut sering dibicarakan, maka akan menimbulkan sifat TAQWA.

Sebaliknya apabila iman manusia telah rusak, maka amalan manusia akan menjadi rusak, sehingga ibadah, muamalah, muasyarah dan akhlak akan menjadi rusak pula.

Apabila amalan telah rusak, maka suasana dan keadaan alam semesta akan menjadi rusak, sehingga iklim, cuaca, udara, daratan dan lautan semuanya tidak lagi berkhidmat kepada manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ…

Artinya : “Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia….: (QS. Ar Rum : 41).

Apakah itu iman yang rusak? Iman yang rusak adalah apabila di dalam hati ada keyakinan bahwasanya makhluk bisa memberi manfaat atau madharat.

Padahal sesungguhnya yang bisa memberikan manfaat atau mudharat hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Makhluk dapat memberikan manfaat atau mudharat atas ijin dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Sekarang ini sebagian manusia mempunyai keyakinan bahwasanya kebahagiaan itu terletak pada harta benda.

Untuk mendapatkan harta benda harus ada uang, dan untuk memperoleh uang harus bekerja. Ini adalah keyakinan yang salah yang harus diluruskan.

Sesungguhnya harta itu tidak bisa mendatangkan kebahagiaan, tetapi Allah yang mendatangkan kebahagiaan.

Harta bisa mendatangkan kebahagiaan itu berhajat kepada Allah dan Allah mendatangkan kebahagiaan tidak berhajat kepada harta.

Jika Allah kehendaki dengan harta akan datang kebahagiaan, dan jika Allah kehendaki dengan harta tidak datang kebahagiaan. Dan jika Allah kehendaki pula tanpa harta, Allah berkuasa mendatangkan kebahagiaan.

Inilah makna dari LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Sesungguhnya uang tidak bisa mendatangkan harta, tetapi Allah yang mendatangkan harta. Uang bisa mendatangkan harta berhajat kepada Allah dan Allah mendatangkan harta tidak berhajat kepada uang.

Jika Allah kehendaki dengan uang akan datang harta, dan jika Allah kehendaki dengan uang tidak datang harta. Dan juga jika Allah kehendaki tanpa uang, maka Allah berkuasa untuk mendatangkan harta.

Inilah makna dari LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Sesungguhnya kerja tidak mendatangkan uang, tetapi Allah yang mendatangkan uang. Kerja bisa mendatangkan uang berhajat kepada Allah dan Allah mendatangkan uang tidak berhajat kepada kerja.

Jika Allah kehendaki dengan kerja akan datang uang, dan jika Allah kehendaki dengan kerja tidak datang uang. Dan jika Allah kehendaki pula tanpa kerja, maka Allah berkuasa mendatangkan uang.

Inilah makna dari LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Dulu semua buah-buahan rasanya manis, tidak ada yang beracun dan berduri. Ketika putranya Nabi Adam as. yaitu Qabil menumpahkan darah di muka bumi dengan membunuh adiknya sendiri, Habil, maka dengan qudrat dan iradah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mengubah buah-buahan itu sebagian ada yang pahit, berduri, dan beracun. Berapa banyak orang yang keracunan dan terkena duri hingga hari kiamat?

Akibat ulah Bani Israil, sampai hari ini umat akhir zaman terkena dampaknya. Dulu hewan-hewan yang disembelih dagingnya tidak pernah busuk walaupun disimpan berhari-hari.

Tapi akibat amal buruk Bani Israil yang mengingkari Allah, daging akan membusuk dalam tiga hari saja tanpa diawetkan. Berapa banyak daging yang terbuang sampai hari Kiamat?

Begitu pula sejak Qarun la’natullah ‘alaih menimbun-nimbun harta, sehingga hartanya menimbunnya dengan gempa bumi dan dampaknya sampai hari ini.

Manusia ingin hidup bebas, tetapi tidak ada yang bisa hidup bebas. Barangsiapa mengikuti peraturan, maka ia akan selamat, dan yang tidak ikut peraturan akan celaka.

Orang yang meletakkan dirinya dalam tertib akan menjadi baik, dan kebaikannya akan dirasakan juga oleh orang lain. Sedang yang tidak mengikuti tertib akan celaka dan mencelakakan orang lain.

Seorang pengemudi yang patuh pada peraturan lalu lintas akan selamat, namun apabila ugal-ugalan, maka ia akan menabrak benda-benda di depannya atau masuk jurang, sehingga mencelakakan dirinya dan orang lain.

Sungguh sangat beruntung kita tidak diciptakan sebagai makhluk yang lain, binatang misalnya. Tetapi derajat manusia bisa lebih rendah dari binatang jika tidak memiliki iman di dalam hatinya.

Maka untuk makhluk yang bernama manusia, Allah subhanahu wa ta’alatidak membiarkannya tanpa aturan khusus. Memang menurut Allah subhanahu wa ta’ala sendiri, manusia itu makhluk yang istimewa dan sebaik- baik ciptaan.

Tetapi bila tidak didasari dengan iman, mereka akan beramal jahat dan menjelma menjadi makhluk yang paling hina. Dalam perkara ini nampak jelas Allah subhanahu wa ta’ala banyak ikut campur tangan dalam tata aturan manusia. Demi kasih sayang-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus 124.000 nabi dan rasul untuk membawa aturan khusus yaitu agama.

Apabila manusia diberi otonomi dalam membuat tata aturan sendiri, maka rusaklah kehidupan manusia di dunia dan di akhirat selama-lamanya.

Ulama’ mengatakan bahwa hari ini agama (iman dan amal) telah terlepas dari kehidupan kita dan ummat manusia. Orang-orang tidak merasa menyesal jika tidak mengamalkan agama. Sementara hubungan dengan rumah sangat kuat, sehingga apabila rumah terbakar merasa sangat sedih.

Hubungan dengan pekerjaan sangat kuat, sehingga tidak mau meninggalkan pekerjaan walaupun untuk sementara. Hubungan dengan anak isteri sangat kuat, sehingga apabila mereka sakit, akan ikut bersedih dan berusaha mencari cara penyembuhannya.

Namun jika agama yang sakit, tidak merasa sedih, tenang-tenang saja. Ketika berkumpul dengan keluarga atau sedang berada di tempat kerja tidak mengantuk, namun ketika mendengarkan pembicaraan iman dan amal saleh keadaannya seperti orang sakit dan gelisah, karena hubungan dengan agama sangat lemah.

Sebagaimana hubungan pedagang dengan tokonya, setiap hari ia datang ke toko, memikirkan kemajuan tokonya. Malam hari pun ia memikirkan dagangannya. Begitu pula apabila hubungan dengan agama kuat, maka setiap hari yang dipikirkan adalah agama.

Bagaimana agar agama bisa wujud dalam kehidupannya, keluarganya, lingkungannya, dan seluruh alam? Jika tidak membiasakan diri dengan amal-amal agama, maka akan lalai mengingat Allah.

Di kantor, di pasar, di sawah, di ladang lupa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, di masjid lalai kepada Allah, bahkan ketika shalat pun lalai kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena banyak waktu yang digunakan untuk mengurus harta benda, pekerjaan, keluarga, rumah dan sebagainya, maka timbullah kecintaan kepada perkara tersebut, yang menyebabkan lalai terhadap agama sebagai maksud hidupnya.

Hal ini menyebabkan terjadinya banyak masalah dalam kehidupan manusia.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda, “Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang apabila kalian melakukannya, maka bencana akan menimpa kalian. Semoga Allah menghindarkan kalian dari perbuatan itu:

(1) apabila perzinaan telah merajalela di tengah-tengah suatu kaum, wabah penyakit akan menimpa mereka mupun penyakit baru yang sebelumnya tidak dikenal;

(2) jika suatu kaum melakukan kecurangan dalam menimbang dan mengukur, mereka akan mengalami kekeringan, kelaparan, kesusahan, dan diperintah oleh penguasa yang kejam;

(3) jika suatu kaum menahan zakatnya, maka hujan dari langit akan ditangguhkan, dan seandainya bukan untuk kebutuhan binatang, maka tak setetes pun yang diturunkan lari langit;

(4) Suatu kaum yang melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, mereka akan menjadi kelinci percobaan musuh;

(5) suatu kaum yang menerapkan hukum yang tidak adil, akan ditimpa perang saudara dan pemberontakan.” (At Targhib wat Tarhib)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila ummatku mulai membenci ulama dalam hatinya, apabila mereka membangun pasar dan tempat perbelanjaan dengan megah, dan apabila mereka mengadakan pernikahan hanya karena kekayaan (bukan karena ketakwaannya, keshalihannya, dan akhlak yang baik orang yang akan dinikahinya) maka Allah akan menurunkan empat bencana kepada mereka. Berupa kelaparan, kezhaliman penguasa, ketidakjujuran para pejabat yang mengatur urusan mereka, dan serangan musuh.” (HR. Hakim)

Perubahan apapun yang terjadi pada suasana dan keadaan, namun perintah Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan pernah berubah sejak zaman Nabi Adam ‘alaihis salam hingga hari Kiamat. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kemalasan beribadah, kekurangan rezeki, dan kurangnya kedamaian adalah balasan atas dosa.”(Tarikhul Khulafa)

Umar radhiyallahu ‘anhuberkata, “Aku telah diberitahu bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam atau Nabi Isa ‘alaihis salam pernah bertanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Apakah tanda keridhaan-Mu kepada ummat ini?’ Allah subhanahu wa ta’alamenjawab, ‘Tandanya adalah pada saat mereka menyemai benih di ladang, Aku mengirimkan hujan. Dan pada musim panen, aku menahan hujan. Urusan pemerintahan mereka Aku serahkan ke tangan orang yang berhati lembut dan urusan harta benda mereka aku serahkan kepada orang yang dermawan.’ Kemudian mereka bertanya, ‘Dan apakah tanda ketidakridhaan-Mu terhadap umat ini?’ Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, ‘Tandanya adalah pada musim menyemai benih di ladang, aku menahan hujan. Dan pada musim panen aku mengirimkan hujan lebat. Urusan pemerintahan Aku serahkan ke tangan orang-orang jahil dan urusan harta benda mereka Aku serahkan kepada orang yang kikir.” (Ad Durrul Mantsur)

Seseorang akan bersemangat mengamalkan agama, jika dia betul-betul mengenal siapa yang memerintahkan untuk mengamalkan agama.

Jika banyak orang mengamalkan agama, maka dengan sendirinya orang-orang akan belajar agama di pondok pesantren, dan mau memakmurkan masjid, karena masjid merupakan rumahnya Allah. Kemudian akan muncullah orang-orang hebat seperti para sahabat radhiyallahu ‘anhum yaitu menjadi petani, pedagang, pengusaha, dan pejabat yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi bila agama tidak hidup, maka yang lahir adalah para penjahat, pencinta-pencinta dunia, dan ahli-ahli dunia. Orang shalih sangat kurang, seribu berbanding satu. Petani, pedagang, pejabatnya tidak shalih, bahkan santri dan ustadznya tidak shalih.

Agama tidak bisa hidup dengan larangan dan perintah manusia, seperti tanaman pohon yang diperintah untuk tumbuh; “Hai daun, kamu harus rimbun, kamu harus berbuah banyak! Hai benalu, jangan tumbuh di sini! Hai rumput, mengapa kamu tumbuh di sini?” Demikian pula dengan perkara agama, tidak bisa menyalahkan orang lain, “Mengapa kamu berbuat maksiat?” Apalagi hanya mencela, menghujat, menggunjing, atau mencari kambing hitam. Sehingga lingkungan dikambinghitamkan, ini karena pengaruh lingkungan dan lingkungan pun dibakar!”

Kita tidak dapat mengubah siapa pun termasuk diri sendiri, tidak dapat memberikan hidayah kepada siapa pun termasuk pada hati kita sendiri. Hidayah dapat diperoleh hanya dengan cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada hati yang menginginkan hidayah, manusia tidak akan mendapat hidayah jika hatinya tidak menginginkan hidayah, meskipun dia anak, isteri atau keluarga seorang Nabi, sebagaimana anak dan isteri Nabi Nuh ‘alaihis salam, isteri Nabi Luth ‘alaihis salam atau ayah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Tetapi, meskipun dia seorang penjahat atau seorang hamba sahaya jika hatinya mau menerima hidayah, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakan dia, sebagaimana Umar radhiyallahu ‘anhu diangkat menjadi khalifah.

Padahal pada masa jahiliyah, beliau pernah membuat berhala dan roti dan ketika lapar dia memakan berhala itu. Sebagian sahabat tidak percaya jika Umar radhiyallahu ‘anhu memeluk Islam. Mereka berkata, “Saya lebih percaya jika kudanya Umar masuk Islam.”

Bilal radhiyallahu ‘anhuialah seorang hamba sahaya diangkat menjadi gubemur setelah mendapat hidayah. Ikrimah radhiyallahu ‘anhu, anak seorang kafir Quraisy yaitu putra Abu Jahal, yang sangat membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia menghindar dari hidayah. la mengatakan kepada kaumnya, “Saya tidak akan memeluk Islam sampai mati!” Tapi ia dikejar hidayah, ia meninggalkan kampung halamannya dengan menumpang sebuah kapal, namun di atas kapal ia mendengar suara orang yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah, padahal ia melarikan diri karena kalimat itu. Dan ia tidak bisa mengelak, ia terkurung oleh hidayah, akhirnya menerima hidayah.

Setelah kembali pada kaumnya, ia ditanya, “Dulu engkau bersumpah tidak akan masuk Islam.” la menjawab, “Saya tidak masuk Islam, tetapi Islam yang masuk ke dalam diri saya.”

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tak ada seorang pun yang mampu menunjukinya.

Para sahabat radiallahu ‘anhum telah berjaya dan sukses didunia dan di akhirat, karena agama mereka junjung di atas kepala dan dunia hanya dijinjing di tangan. Apabila agama bergoyang, dunia dilepaskan untuk sementara untuk memegang agama.

Tapi umat akhir zaman sebaliknya dunia dijunjung di kepala dan agama dijinjing di tangan. Apabila dunianya bergoyang, agama rela dilepaskan.

Seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhu telah berkorban dengan menjalani kehidupan dunia dengan kesederhanaan yang maksimal. Bahkan rumah, pakaian, dan makanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat sederhana. Bagaimana mengerahkan seluruh kemampuan dan potensi yang ada pada diri untuk usaha agama, seluruh apa yang dimiliki untuk agama. Agama hanya akan wujud dengan pengorbanan.

Pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala akan datang pada ummat, apabila berkorban untuk agama, sebagaimana Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkorban sampai habis hartanya untuk agama.

Seorang pedagang yang hanya paham dengan perdagangan, seorang petani yang hanya paham dengan pertaniannya, dan seorang pejabat yang hanya paham dengan kantornya, adalah suatu kejahilan (kebodohan).

Orang yang pandai dan sukses adalah seorang pedagang, petani, dan pejabat yang ta’aluq (ada hubungan) dengan Allah subhanahu wa ta’alaserta mengenal Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila hubungan dengan Allah baik, maka percakapan, pendengaran, dan penglihatan akan baik, sehingga segala gerak-gerik akan menjadi baik.

Orang yang tidak melakukan usaha agama (berkorban untuk agama) akan tunduk kepada anak isterinya, pekerjaannya, sawah ladangnya, bahkan kepada hewan ternaknya. Setiap pagi harus memberinya makan, menjaganya, dan memandikannya.

Orang yang mengamalkan agama berbeda dengan pemilik agama. Pengamal agama seperti pekerja toko yang hanya mengharap gaji dari pekerjaannya.

Pemilik agama seumpama pemilik toko, dia selalu berpikir bagaimana usahanya bisa maju, bagaimana seluruh karyawannya bisa hidup makmur. Jika hanya mengamalkan agama, ibadah sendiri, wirid munajat sendiri, tapi tidak punya tanggung jawab agama, ia bukanlah pemilik agama. Oleh karena itu perbaikilah hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia dan makhluk Allah yang lain.

Dalam beberapa hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diungkapkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menolak bencana dari penduduk bumi atau menahannya dengan sebab (berkah) orang-orang yang suka beristigfar dan memakmurkan masjid.

Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala pun berkenan memberi rezeki kepada penduduk bumi, memberikan pertolongan dan menolak bencana karena adanya hamba-hamba yang shaleh, yang suka beristighfar dan memakmurkan masjid.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Al-Kabir dan Imam Baihaki dalam Al-Sunan dari Mani’ Ad-Dailami radhiyallahu ‘anhu la menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

لَوْلاَ عِبَادٌ لِلَّهِ رَكَعَ وَصَبِيَّةٌ رُضِعَ وَبَهَائِمٌ رَتَعَ لَصَبَّ عَلَيْكُمُ الْعَذَابَ صَبًّا ثُمَّ رَضَّ رَضًّا

Artinya : “Jika bukan karena berkah hamba-hamba Allah yang rukuk atau mendirikan salat, bayi-bayi yang disusui, dan binatang-binatang yang digembalakan, pasti siksaan akan dikucurkan kepadamu dengan derasnya dan kamu akan dihancurkan sehancur-hancurnya.”

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

اِنَّ اللهَ لَيَصْلُحُ بِصَلاَحِ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ وَلَدِهِ وَوَلَدِوَلَدِهِ وَاَهْلِ دَوِيْرَتِهِ وَدَوِيْرَاتِ حَوْلِهِ وَلاَ يَزَالُوْنَ فِى حِفْظِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَادَامَ فِيْهِمْ

Artinya : “Allah memperbaiki atau menjadikan saleh dengan kesalehan seseorang, anaknya, anak dari anaknya (cucunya), dan penduduk tetangganya yang terdekat dan yang dekat di sekitarnya. Dan mereka akan selalu dalam penjagaan Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahaagung, selama ia berada di sisi mereka.”

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

اِنَّ اللهَ لَيَدْفَعُ بِالْمُسْلِمِ الصَّالِحِ عَنْ مِائَةِ اَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِهِ بَلاَءً

Artinya : “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala dengan berkah Muslim yang saleh menolak bencana atau musibah dari seratus penduduk rumah dari tetangganya.”

Kita adalah ummat akhir zaman, ummat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Allah memberi gelar ummat ini sebagai ummat yang terbaik, yang dilahirkan di tengah-tengah manusia dengan tugas Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, sebagaimana firmanNya :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ…

Artinya : “Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…….” (QS. Ali Imran : 110)

Hari ini Agama Islam bisa sampai ke tempat kita dan ada pada ummat seluruh alam tumbuh berkembang atas pengorbanan harta, jiwa raga, tetesan darah para syuhada’, dan tetesan air mata Nabi dan para sahabat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi tahu bahwa sebelum datangnya hari kiamat, Islam akan kembali jaya.

Tanda-tandanya adalah ummat paham agama, orang berbondong-bondong mengamalkan agama, sehingga laki-laki yang baligh memakmurkan masjid, wanitanya tutup aurat secara sempurna, menyuruh suami dan anak laki-laki keluar di jalan Allah, mendidik anak secara Islam sehingga menjadi Alim alimah, Dai daiyah, Hafidh hafidhah, Abid abidah dan Mujahid mujahidah

Ini semua bisa terwujud manakala :

  1. Menangguhkan 8 perkara yaitumenangguhkankeperluan bapak, anak, saudara, istri, keluarga, harta yang diusahakan, perniagaan yang ditakuti kerugiannya, rumah yang dicintai
  2. Mendahulukan 3 perkara, yaitu perintah Allah, sunnah Rasul dan keluar di jalan Allah
  3. Menafikan 6 perkara, yaitu bangsa, suku, bahasa, warna kulit, profesi, dan madzhab

Untuk merealisasikan perkara ini maka kita perlu melibatkan diri dalam USAHA DAKWAH, dengan membawa 6 keyakinan, yaitu :

  1. Usaha dakwahadalahperintah Allah
  2. Usaha dakwahadalahsunnah Rasulullah
  3. Usaha dakwahadalah semata-matamencari ridha Allah
  4. Dalam dakwah ada janji Allah, yaitudibalas diakhirat
  5. Dalam dakwah ada jaminan Allah yaitudiberikan didunia
  6. Dalam dakwah ada pertolongan Allah, yaitu yang datangnya sewaktu-waktu(saat dibutuhkan)

Hai ummat Nabi, jadikan dakwah sebagai maksud hidup, hidup untuk dakwah, dakwah sampai mati, mati dalam dakwah. Ini namanya mendapat hidayah.

Jangan jadikan sawah sebagai maksud hidup, hidup untuk sawah, sawah sampai mati, mati dalam sawah. Ini namanya musibah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *